6954ed89878ad

AI DeepSeek Tak Sengaja Temukan Cara Baru Sebar Ransomware, Cuma Modal Browser

Model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) asal China, DeepSeek, dilaporkan tidak sengaja menemukan teknik baru untuk menyebarkan ransomware.

Teknik ini lebih “senyap” dari penyebaran biasa di mana hanya memanfaatkan browser, tanpa perlu menginstal aplikasi, mengeksploitasi celah sistem, atau memperoleh akses root ke perangkat.

Temuan ini diungkap peneliti keamanan siber Check Point Research dalam laporan terbaru mereka.

Menurut laporan, DeepSeek dapat menghubungkan konsep kerentanan browser yang sebelumnya menjadi rantai serangan ransomware yang dapat berfungsi di dunia nyata.

Serangan tersebut memanfaatkan fitur bawaan browser bernama File System Access API. Fitur ini memungkinkan situs web mengakses file atau folder tertentu setelah memperoleh izin dari pengguna.

Dalam skenario yang diuji peneliti, fitur tersebut disalahgunakan dengan menyamar sebagai layanan peningkatan kualitas foto berbasis AI.

Korban hanya diminta memberikan satu izin akses melalui browser.

Namun tanpa disadari, izin tersebut memberikan akses ke folder DCIM di perangkat Android, yaitu direktori yang biasanya menyimpan foto, hasil tangkapan layar, hingga dokumen identitas yang dipindai.

Setelah akses diberikan, ransomware dapat mengenkripsi seluruh isi folder tersebut.

Berawal dari permintaan AI

Check Point mengatakan, teknik ini ditemukan saat menguji kemampuan DeepSeek dalam merespons berbagai permintaan (prompt).

Dalam pengujiannya, para peneliti menemukan sampel kode yang dijuluki InfernoGrabber 9000. Meski belum sepenuhnya lengkap, sampel tersebut dinilai hanya membutuhkan sedikit penyempurnaan agar dapat berfungsi sebagai ransomware.

“Keahlian tingkat rendah sudah cukup. Anda tidak perlu menjadi penjahat siber yang canggih atau kelompok ancaman persisten tingkat lanjut,” kata Pedro Drimel Neto, pemimpin tim analisis malware di Check Point.

“Bahkan, kami telah mengamati bukti pelaku ancaman sebenarnya yang mencoba serangan ini menggunakan permintaan LLM yang sederhana,” lanjutnya.

Dalam analisisnya, Check Point memeriksa hampir 3.000 file yang berkaitan dengan DeepSeek. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.383 file dikategorikan berbahaya atau mencurigakan.

Kepala Riset Check Point, Eli Smadja, menilai bahwa temuan tersebut menandai perubahan besar dalam cara serangan siber dikembangkan.

“Apa yang kita saksikan adalah pergeseran mendasar dalam cara serangan siber baru lahir. Untuk pertama kalinya, kita memiliki bukti bahwa model AI dapat secara independen bernalar di berbagai fitur platform yang sah,” kata Smadja.

Menurut Check Point, kerentanan pada File System Access API sebenarnya bukan hal baru.

Sebuah kajian yang dipublikasikan pada konferensi USENIX Security 2023 sebelumnya membahas kemungkinan API tersebut dimanfaatkan sebagai media penyebaran ransomware.

Namun, DeepSeek dinilai dapat menghubungkan konsep-konsep teoritis tersebut menjadi rantai serangan yang realistis tanpa arahan teknis secara langsung dari manusia.

Peneliti juga menguji model terbaru DeepSeek V4. Model tersebut memang menolak ketika diminta secara eksplisit membuat ransomware.

Namun, ketika prompt diubah tanpa menyebut ransomware secara langsung, AI dapat merancang yang kemudian dapat dikembangkan menjadi serangan.

Sebagai pembuktian, Check Point berhasil membuat proof of concept (PoC) yang mampu mengenkripsi foto pada perangkat Android dengan browser Chrome versi 148.

Menurut Check Point, hasil ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut bukan sekadar teori, melainkan dapat diterapkan pada perangkat nyata.

Karena itu, organisasi maupun pengguna individu disarankan lebih berhati-hati saat memberikan izin akses file kepada situs web melalui browser, terutama jika permintaan tersebut berasal dari layanan yang mengatasnamakan AI atau pengolah gambar.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *